Archive for June, 2013

image

Adanya sih Beauty and the Beast ya? Kalo “in a Beast” kayaknya istilah ngawur. Memang ngawur sih, cuma ingin menggambarkan keadaan Sendangbiru yang sekarang.

Dulu pernah berkunjung ke sini saat masih SD, mungkin tahun 90an awal. Benar-benar pantai yang masih bersih dan sepi. Air laut yang bening, tanpa gangguan perahu yang terlalu banyak bersliweran ataupun suara orang-orang nDangndutan di tepi pantai.

Tapi itu dulu.. Sekarang, dengan semakin banyaknya populasi manusia, semakin padat pula pantai yang letaknya di Malang Selatan ini. Ditambah lagi, permintaan ikan yang semakin meningkat membuat banyak nelayan-nelayan pendatang yang mengadu nasib di tengah deburan laut selatan Jawa ini.

Jadi ingat perkataan seorang nelayan dari Banten yang berbagi cerita di sebuah warung.

“Sejauh saya mengelilingi Indonesia, tidak ada yang bisa menyaingi banyaknya ikan di Sendangbiru,” begitu kata pak nelayan yang masih keturunan Bugis tersebut.

Semakin banyak orang, tentunya semakin susah untuk dikendalikan. Pantai yang dulunya bersih ini sekarang bisa dibilang kurang layak untuk tujuan berlibur. Sendangbiru sekarang layaknya pelabuhan. Seringkali miris kalau lihat nelayan buang sampah sembarangan di laut ataupun di darat.

Hal ini ditambah dengan kekurangpedulian pemerintah. Ya, setahu saya, nyaris tidak ada tempat sampah di pantai, ataupun dermaga Sendangbiru. Kalaupun ada, itu cuma tumpukan sampah-sampah yang dibuang di satu tempat. Itulah satu alasan kenapa saya menyebut Sendangbiru “a Beast.”

Lalu, dimana mencari Beauty-nya? Mudah, cukup luangkan waktu untuk membuang segala hal negatif di atas dan melihat sekitar Sendangbiru secara positif. Bernafas, bersyukur, dan nikmati saja apa yang ada di sana. Lautnya, pantainya, ikannya, nelayannya, perahu-perahunya, bahkan seekor Elang Jawa yang akrab dengan orang-orang..

image

image

image

image

Advertisements

Kata-Kata Ibu Itu Manjur

Posted: June 20, 2013 in Uncategorized

“Bawa jas hujan,” kata ibu

Aku pun menyahut, “Nggak usah, masa’ bersepeda mau bawa-bawa jas hujan? Lagian masih ada langit biru.”

“Kalo gitu, bawa kresek buat pembungkus hape. Disini terang, di sana mungkin hujan,” ibu tetap memaksaku berwaspada, siapa tahu nanti benar-benar hujan.

“Haduuuuh…” akhirnya kresek hitam kecilpun aku ambil dari tangan ibu sambil menggerutu, “nggak mungkin hujan, bu..”

Entah karena insting seorang ibu atau apalah, ia tetap yakin kalau kresek itu nantinya akan berguna.

Sepeda kukayuh ke arah Unmuh, cukup jauh dari rumah. Sampai di lapangan untuk berlatih rugby pun tidak ada tanda-tanda bakal hujan.

Kelar latihan, waktunya pulang. Sampai di Suhat gerimis mulai turun. “Semoga tidak bener-bener hujan,” pikirku.

Ndilalah..sampai Jalan Coklat hujan kok malah tak terkendali. Akhirnya, dibungkuslah hape ke dalam kresek tadi.

Sampai di rumah, badan basah kuyup karena nekad menerjang hujan. Ibu menyambut, membuka pagar dengan senyum mengembang..

Manjur bener perkataanmu, bu..

image

image

Beberapa waktu lalu saya dan teman-teman menempuh perjalanan pulang Kediri-Malang via Batu yang jalannya mananjak dan manurun. Perjalanan ditempuh malam hari karena salah satu teman, Nora, ngidam berat Nasi Goreng Jawa, menu andalan warung pinggir jalan di Kediri yang buka hanya di malam hari.

Kenyang dan perut mules karena terlalu banyak makan, pulanglah kita sekitar pukul 7 malam hari. Alhasil, ketika memasuki daerah pegunungan setelah kota kecil Kandangan jam mobil (ya, jam mobil, karena tidak ada yang hobi pake arloji) menunjukkan jam 8 lebih XX, baca sekian..sekian..

Lalu lintas di jalan sempit berkelok tajam itupun menjadi amat sulit. Itu adalah waktu dimana bis wisata besar dan mobil pribadi pulang dari arah Batu, apalagi saat itu hari Sabtu malam Minggu. Setiap kali berpapasan dengan bis berbodi alakazam di tikungan tajam, kami harus mengalah karena ekor bis terpaksa memakan marka jalan.

Hal ini diperparah dengan sangat kurangnya penerangan di sepanjang jalan Kandangan ke Kasembon sampai daerah waduk Selorejo. Bisa dimaklumi, mungkin pemerintah kesulitan memasang instalasi listrik di daerah bergunung.

“Tapi sekarang kan ada lampu bertenaga surya,” celetuk seorang teman, mengingatkan saya tentang dermaga Sendangbiru yang mulai saya benci karena terang benderang di malam hari.. karena kalau terang, ikannya nggak mau mendekat. Ya, tanpa listrik, tanpa kabel yang menjulur panjang, hanya perlu lampu dan panel surya, para pengemudi bisa bernafas lebih lega.

Pemerintah perlu membuat anggaran untuk penerangan daerah tersebut. Pajak dari rakyat dan untuk rakyat. Bukan dari rakyat untuk pejabat. Beringsutlah, buat perubahan pada orang banyak, bukan pada diri sendiri saja.

-Leres-