Archive for July, 2013

image

Mari berhitung, satu karung beras itu sekitar 25 kilogram. Seorang kuli toko sembako di pasar bisa mengangkat tiga sampai empat karung di punggung.

Jadi, ada sekitar 100 kilogram beras yang melawan gravitasi dan menekan tubuh mereka ke bawah. Hal yang terus terjadi setiap hari, dari pagi hingga senja menanti. Tidak ada keluhan walaupun keringat dan debu karung bertebaran di antara mereka. Hebatnya lagi, tanpa harus berpikir negatif, mereka melakukannya meski harus berpuasa (foto diambil waktu membeli beras di Pasar Besar Malang untuk dibagikan kepada yang kurang mampu bersama tim Mentari Bersinar). (more…)

Advertisements

image

Baru saja membaca satu berita di Merdeka mengenai negara kita yang memiliki utang 2000 (dua ribu) Trilyun lebih dan terancam bangkrut. Sebuah artikel yang membuat saya ingin sekali mengambil gitar dan menyanyikan salah satu lagu yang saya benci, yaitu Mau Dibawa Kemana.

Logikanya begini, kalau melihat kondisi negara kita, lihat saja.. jalan penuh sesak dengan mobil dan motor. Banyak perumahan-perumahan baru yang langsung ludes dipesan padahal rumahnya saja belum jadi. Atau pelayan McD atau PH yang setiap harinya selalu kewalahan melayani pengunjung. Artinya, daya beli masyarakat tentunya sangat kuat. Kalau masyarakatnya (minimal menengah-lah) saja kuat beli, kenapa negara ini terancam bangkrut? (more…)

image

Gypsy Danger, robotnya Pacific Rim

Pagi tadi WhatsApp tiba-tiba berbunyi “ding!” dan terbacalah sebuah pesan dari seorang teman yang sedang mencari jodoh. Inisialnya BI..Bayu Iteng namanya..ada yang mau dikenalkan? Pasti nggak ada..

Sebuah kalimat ambigu singkat yang hanya dimengerti oleh bangsa semut terpampang di layar hape, “Pacific rim main jam 12.30. Melu a? (Ikut tidak?)”

Jujur baru sekali saya lihat trailernya.. di tipi. Nama besar sutradara Guillermo del Toro selalu memberikan jaminan mutu untuk efek-efek menawan di setiap garapannya seperti Hellboy ataupun Pan’s Labyrinth.

Tapi sebenarnya hal itu kurang meyakinkan saya untuk berangkat nonton Pacific Rim. Tapi daripada bengong, menjemur kasur, atau kejar-kejar ayam kate tetangga, mending berangkat sajalah.

Dari trailernya, bayangan saya film ini tidak jauh beda dengan salah satu film favorit saya, Robot Jox, dimana manusia menjadi driver sebuah robot besar.

Dan Robot Jox mungkin hanya inspirasi kecil di Pacific Rim. Ternyataaa.. ada banyak hal yang membuat saya begitu mengagumi film ini.

Masa kecil saya ditemani oleh banyak lakon robot. Dari Power Rangers, Centurion, Voltus, Robocop, Transformers, Satria Baja Hitam, dan banyak satria berjubah baja nan canggih lainnya. Pacific Rim seakan menjadi pelepas dahaga yang kembali membawa masa kecil.

Bahagia itu sederhana.. Bisa melihat film tentang robot lagi!

Kedua, sudah takdirnya kalo sebagian besar lelaki itu penggemar film aksi. Apalagi ditambahi bumbu-bumbu efek buatan Del Toro. Pria berinisial BI aka Bayu Iteng itu sampai menjerit-jerit saking tegangnya (catatan: jeritan pria dan wanita itu beda lho ya). Padahal dia biasanya cuma jerit-jerit kalo ada scene Maudy Ayunda sedang menjemur pakaian.

Udah, gitu ajah..mending langsung nonton. Jangan andalkan review atau spoiler di internet. Kalau masa kecil anda dipenuhi fantasi-fantasi futuristik, terutama tentang robot, segeralah antri tiket.

Nb: ah..beruntungnya bisa nonton premier tanpa harus antri..lalalala

Keluhan..

Posted: July 10, 2013 in Uncategorized
Tags: , , ,
image

Indomacet..dimana-manaaa..

Suatu pagi di Indomacet (bukan nama toko kelontong sebenarnya), seorang pria yang tak lekang dimakan usia sedang melihat-lihat di lemari pendingin.

Sebenarnya tidak ada niatan belanja, hanya ingin ambil uang di ATM yang letaknya di dalam tokontong (toko kelontong) tersebut.

Tapi, hati ini seperti diiris sembilu ketika sang penjaga toko mengucapkan, “selamat datang dan selamat belanja di Indomacet” plus senyuman yang semoga saja tulus. Tiada tega rasanya kalau mampir hanya sekedar ambil uang.

Lirikan mata punya lirikan mata, akhirnya terambillah sebuah minuman sari kedelai FGH (bukan merk sebenarnya). Lumayanlah, biar sehat dan tidak melukai perasaan mas penjaga toko dengan cara yang murah meriah.

Sang penjaga toko pun memulai tugasnya, melayani pembeli..

“Hanya ini saja, bapak?”

Sekejap terhenyak dipanggil bapak, kemudian membalas, “Sejak kapan kamu jadi anakku?”

..tapi hanya dalam hati saja. Jawaban sebenarnya cuma, “iya, mas” sambil menyodorkan uang lima ribuan.

Sambil mengotak-atik mesin kasir si mas Indomacet tadi bilang, “uangnya lima ribu ya, bapak.. totalnya tiga ribu tigaratus jadi kembali seribu tujuh ratus, pak” sambil menyerahkan uang seribuan plus recehan tiga keping.

“Mas, lihat rambut di kepala saya. Ada ubannya tidak? Ada kan? Makanya jangan panggil saya bapak! Apalagi tante! Tak tendang masuk restoran kamu nanti!”

Lagi-lagi cuma marah di dalam hati..Jawaban sebenarnya? “He’eh..” sambil menarik nafas panjang tanda merapal jurus Kesabaran versi 8.

“Pakai kantong plastik ndak, bapak?” Celetuk mas Indomacet yang lagi-lagi melanggar zona kemarahan saya.

“Oooo..wedhus! Aku bukan bapakmu! Kamu tidak mirip aku! Kita mungkin cuma beda beberapa tahun, jadi mana mungkin aku punya anak seperti kamu di usia yang masih sangat muda, nak?? Jangan panggil aku bapak!! *$*$-%@*$!!!”

Muntahlah lava emosi, terlontarlah kata-kata yang tidak seharusnya diucapkan dalam bersosialisasi dengan orang lain.

Tapi, tentu saja hanya keluhan di hati saja. Saya tidak sekejam itu dalam bertukar kata.

Ya, selalu ada hikmah dalam setiap pengalaman buruk. Mas Indomacet ini seperti memaksa saya untuk membeli alat cukur untuk menghilangkan brengos dan brewok. Supaya terlihat lebih muda dan tidak dipanggil bapak lagi..

Terima kasih, mas Indomacet >:P

image

Beberapa minggu lalu saya sempat terkejut membaca berita di sebuah koran lokal kota Malang yang memberitakan bahwa jembatan Soekarno-Hatta sebenarnya sudah kadaluarsa. Jujur, sebelumnya tidak pernah sedikitpun ada rasa khawatir saat melintas dan terjebak padatnya lalu lintas di atas jembatan rapuh tersebut.

Lokasi jembatan tersebut sebenarnya kurang strategis. Mungkin, ketika dibangun, tidak memikirkan bagaimana wajah lalu lintas kota Malang beberapa tahun ke depan. Semakin bertambahnya umur bumi, kota ruko yang panas ini semakin padat. Mudahnya membeli sarana transportasi pribadi seperti mobil dan motor membuat Malang tambah sumpek.

Nah, tadi pagi, sepulang dari terminal Landungsari, saya memutuskan untuk mencoba melewati jembatan tersebut. Ada sedikit perubahan yang cukup membuat kaget (saya dan beberapa pengendara lainnya).

Ternyata, lampu bangjo (abang-ijo) yang dulu terbengkalai di seputaran jembatan tersebut telah diaktifkan kembali. Arus lalu lintas dari Dinoyo ke Jalan Ijen tidak perlu belok kiri melintasi jembatan kemudian putar-balik dan kembali melintasi jembatan itu lagi sebelum memasuki daerah mBethek. Lalu lintas dari arah barat diperbolehkan langsung ke timur dengan syarat antre menunggu lampu hijau. Positifnya, beban jembatan sebelah barat terkurangi, tapi kendaraan yang tertahan di daerah Dinoyo Daging sampai perempatan Brawijaya akan semakin padat. Jadi, serahkan solusinya pada Pak Polisi..

Untuk lalu lintas dari arah Blimbing tidak bisa langsung ke Dinoyo. Mereka diwajibkan belok kiri ke arah timur setelah melewati jembatan. Pastinya, perjalanan ke Dinoyo akan lebih jauh karena harus memutar sekitar 1-2 km menyusuri mBethek dan Jalan Bandung. Bagaimana kalau putar balik ke arah barat setelah lewat jembatan? Bisa, selama arus lalu lintas mBethek dari arah timur sepi. Good luck for that.

Yang tidak begitu terpengaruh oleh perubahan ini adalah arus lalu lintas dari timur ke Dinoyo atau Blimbing, kecuali ada cikar sapi besar memenuhi jalan atau truk kelebihan muatan kemudian as rodanya patah atau ada sepasang kekasih yang lagi piknik di tengah jalan atau ada kucing-kucing lagi rapat pembentukan panitia atau apalah.. yang bisa bikin macet.

Jadi, selamat menikmati sebuah perubahan kecil di Malang. Kita lihat, seberapa efektif rekayasa ini untuk memberi kesempatan Sang Jembatan bernafas lebih lega sehari-harinya, terlebih di akhir pekan atau hari libur.

I wish you long live and prosper, Jembatan Soehat 🙂

image

“Jadi orang dewasa itu enak, tapi susah ngejalaninnya..”

Sebuah kalimat yang seringkali muncul di televisi untuk iklan operator selular. Dan ketika sesuatu masuk di layar kaca, semua orang bisa menikmatinya. Tua-muda, pria-wanita, hihi-haha..

Untuk adek-adek yang masih kecil, yang kebetulan lihat iklan tersebut, jangan percaya.. (mungkinkah blogku dibaca oleh anak-anak?)

Percayalah, jadi orang dewasa itu enak. Tapi, jadi anak kecil itu luar biasa enaknya. Orang dewasa mungkin boleh utang di warteg, tapi kalian lebih istimewa. Nggak usah mbayar. Karena itu tanggung jawab orang tua yang mengajakmu makan di warteg. Pilih mana? Utang atau dibayarin?

Kalian nggak perlu sungkan untuk menangis ketika jatuh, nggak usah malu kalo ketahuan lagi nyanyi-nyanyi sendiri, nggak bakal khawatir kehilangan teman kalo berantem..paling besok juga main bareng lagi.

image

Jadi, adek-adek, mumpung masih kecil, nikmati dunia kalian. Bermainlah sepuasnya dan jangan pernah pengen jadi dewasa.

Bangga menjadi dewasa itu adalah keterpaksaan karena om dan tante tidak akan pernah bisa menjadi anak kecil lagi.