Painan, Kota Kecil dengan Banyak Keindahan

Posted: April 5, 2015 in pantai, pariwisata, pinkik, sumatera barat, wisata
Tags: , , , ,

Bukit Langkisau, “Gunung Banyak”-nya Sumatera Barat

Setelah sekian lama nggak ngeblog.. Kini saya terdampar di Padang, Sumatera Barat. Banyak cerita yang belum terkisahkan selama masih cerewet dalam blog di Malang, Jawa Timur hingga kini memiliki istri dan menetap di Ranah Minang ini. Dari Didi Kempot ke Ellya Kasim, dari Setasiun Balapan ke Ayam Den Lapeh..

Oke, mari kita fast forward saja kisah-kisah kehidupan. Nanti baca saja di Oh Mama, Oh Eyang Putri, Oh Bude, Ohlala Beibeh edisi khusus Hari Ibu Kartini. Kali ini saya ingin menceritakan perjalanan saya menuju Painan, sebuah kota kecil di selatan ibukota (ibukota Sumatera Barat, tentunya, pembaca.. masa’ ibukota istrinya bapakota?). Dengan sejumput asa yang membuncah ketika mengetahui bahwa hari Sabtu hanya duduk-duduk saja di rumah. Dan setelah dua tiga kali lempar koin untuk memutuskan berangkat atau tidak.

Jarak dari Kota Padang ke Painan sekitar 77 kilometer, ditempuh dengan waktu sekitar dua jam lebih karena kita harus membelah perbukitan yang memisahkan Padang dan Painan. Maklum, untuk menjaga reputasinya sebagai pulau yang memiliki Bukit Barisan, sudah menjadi risiko bagi para penghuni bagian barat Sumatera untuk mendaki gunung lewati lembah ketika menuju kota-kota lainnya. Beruntung, Sumatera Barat memiliki sarana jalan dengan kualitas aspal yang bisa diacungi jempol.

Eh, kenapa ngomongin soal aspal jalan ya? Kembali ke topik utama, yaitu jalan-jalan ke Painan. Sesampai di kota tersebut, kami langsung melanjutkan perjalanan menuju ke Bukit Langkisau. Sebagai pendatang yang baru beberapa bulan di Sumatera, sementara istri juga jarang jalan-jalan naik motor sendirian waktu dulu masih bujang (kemudian digampar), terpaksalah kami harus bertanya-tanya untuk ke Bukit Langkisau. Jangan sungkan-sungkan untuk menanyakan arah kalau Anda berada di Sumatera Barat. Orang-orang di sini sangat senang dimintai bantuan, terutama mengenai arah jalan. Mereka akan memberitahukan arah hingga ke detail-detail terdalamnya.

Pastikan bahwa kendaraan Anda tidak mengalami masalah serius, terutama untuk bagian rem dan kampasnya ketika menaiki tanjakan ke Bukit Langkisau ini. Setelah beberapa jeritan kekhawatiran karena tanjakan yang terlalu curam, serta beberapa papan peringatan “Dilarang Berbuat Maksiat”, sampailah kami ke Bukit Langkisau. Di bukit ini Anda akan menemukan pemandangan terbaik dimana laut dan kota Painan dipisahkan dengan pasir dan pepohonan.

Bukit Langkisau ini mengingatkan akan Gunung Banyak di Batu, Jawa Timur, berikut dengan paralayang-nya. Sayangnya hanya setengah jam di sini, gemuruh petir menyambar. Padahal saat datang di sini nggak ada mendung sama sekali. Terpaksalah bergegas pulang. Dengan sedikit ngebut, rencana menuju salah satu obyek wisata di Painan, Jembatan Akar pun pupus sudah akibat gulungan awan hitam di angkasa. Vario terus digeber dengan kecepatan maksimal menjelang minimal..alias pas-pasan saja. yang penting cukup kencang buat kabur dari hujan. Dan beruntunglah kami karena mendung dan hujan berhenti mengejar. Akhirnya, lempar koin lagi dan diputuskan mampir dulu ke Pantai Batu Kalang.

Muara Pantai Batu Kalang

Dari arah Padang, Pantai Batu Kalang letaknya adalah sebelum Kota Painan. Di sini dibilang sebagai Pantai Tongkrongan Cowok. Entah kenapa, tapi mayoritas yang berada di sini adalah para pemuda. Pantai Batu Kalang ini tergolong pantai yang landai dengan ombak yang tidak begitu besar sehingga sangat menyenangkan bila kondisi air laut sedang surut. Karena bisa berjalan-jalan hingga ke tengah. Karena mendung masih menggelayut, kami nggak begitu lama mampir di sini. Hanya melihat sekumpulan anak-anak yang menikmati masa kecil dengan memancing rame-rame.

Anak-anak Pantai Batu Kalang menghabiskan sore dengan memancing rame-rame.

Anak-anak Pantai Batu Kalang menghabiskan sore dengan memancing rame-rame.

Oh iya, untuk biaya yang harus dikeluarkan di Bukit Langkisau adalah Rp 3000,- sebagai pengganti ongkos parkir, sementara untuk Pantai Batu Kalang, Anda tinggal memberikan ongkos masuk suka rela kepada para pemuda sekitar. Mungkin Rp 10.000 cukup untuk satu mobil (karena waktu kami masuk yang jaga nggak ada, jadi nggak tahu berapa bayarnya hehehe..)

It’s time to go home.. Sampai bertemu di kisah-kisah selanjutnya! (kok jadi semacem kaset Sanggar Cerita, ya?)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s