Menguji Lidah di Amai

Posted: April 28, 2015 in minuman, padang, sumatera barat, tradisional
Tags: , , , ,

PSX_20150426_145136

Nggak terasa sudah hampir dua bulan tinggal di Tanah Minang. Banyak kejadian seru, mulai dari kaget diklakson mikrolet sporty hingga pesan pizza tapi duitnya kurang.

Ada banyak hal yang harus kamu coba kalau mampir ke Kota Padang ini. Salah satunya adalah minum Empedu Tanah. Ini bukan empedu sapi, ayam, atau kambing yang jatuh ke tanah, kemudian ditanam, kemudian diberi pupuk dan disirami setiap hari selama seminggu, lalu diambil lagi dan diminum (terlalu detail joroknya? Nggak kan?).

Empedu Tanah itu kalau bahasa ilmiah ala Dokter Hembing adalah Sambiloto dan punya manfaat beragam, seperti mengatasi kencing manis, kanker, hingga penyakit terlalu rakus makan tempe bongkrek, seafood, jamur, atau singkong, yang berujung pada keracunan.

Selain manfaat-manfaat di atas, ada satu lagi kegunaan dari Empedu Tanah, yaitu bikin wajah menyeringai karena kepahitan di dalam lidah. Ini tampaknya yang mau dimanfaatkan sang istri buat ngerjain suaminya. Berdalih harus nyoba sesuatu yang baru, serta taruhan yang nggak jelas yang menang dapat apa, mampirlah kita ke Kedai Minuman dan Jamu Tradisional “Amai” yang lokasinya saya belum hapal. Yang pasti di daerah sekitar Pondok (kalau mampir ke Padang dan pengen coba, kontak saja, nanti saya tanyakan tempatnya dulu ke istri :D).

Ketegangan sudah dimulai ketika memesan dua gelas Empedu Tanah karena ibu pelayan yang nggak percaya kalau ada yang mau pesan minuman itu. Beberapa tamu juga cekikikan mendengar ada yang pesan Empedu Tanah. Pikiran pun mulai aneh-aneh, berpikir kalau Empedu Tanah ini bukan minuman, tapi semacam salep yang dioleskan di atas panu. Tapi, maju terus pantang makanan! (rantang atuh..).

PSX_20150426_144827  PSX_20150426_145409

Datanglah dengan tergopoh-gopoh, Uda (Mas, kalau bahasa jawa) pelayan menyodorkan dua gelas minuman yang mirip kola-kola tanpa busa. Iteeeem banget! Mengingatkan akan seorang teman yang selalu bangga dengan kumisnya di Kota Malang di seberang sana. Plus.. dua sedotan. Ya, kata istri minumnya harus pake sedotan, biar makin afdol…. pahitnya.

“Satu.. dua.. tiga..”

Cairan hitam legam itu pun mulai membasahi rongga mulut dan kerongkongan. Sensasi pahit serta tekstur yang cair, ditambah dengan minum dari sedotan seakan membuat mulut ini ingin menirukan seruan dari Pak Bondan Winarno, “Mak Nyak!”

Sembari Empedu Tanah datang dan pergi masuk ke dalam perut, pikiran aneh-aneh pun kembali muncul. Ini bukan Empedu Tanah, ini oli motor yang diambil dari bengkel (kalau siang pelataran Warung Amai ini adalah bengkel motor). Ini adalah Juice Klerek (biji tradisional buat cuci baju). Hingga berpikiran kalau minuman ini sudah kecampuran sama brengos (kumis) teman di Malang.

Perlu beberapa sedotan untuk menghabiskan segelas Empedu Tanah dengan muka menyeringai kepahitan. Pertandingan akhirnya dimenangkan oleh pihak suami dengan selisih waktu hanya beberapa detik di depan pihak istri. Tapi, karena nggak tahan sama pahit yang terus menyeruak di dalam rongga mulut, akhirnya pesan minuman satu lagi buat meredakan suasana, Cincau Santan.

PSX_20150426_144602

Lalu, yang menang dapat apa? Ya nggak dapat apa-apa. Karena selanjutnya kami hanya saling memandang dengan senyum penuh…. kepahitan (arti yang sebenarnya).

Apa tantangan berikutnya?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s