Saat Keinginan Menyeberang ke Angso Duo Tinggal Kenangan.. But, Hey! This Is an Adventure! Lain Kali Datang Lagi ke Pariaman #IniJudulApaParagrafKokPanjangAmat

Posted: May 17, 2015 in padang, pantai, pariwisata, piknik, sumatera barat, wisata
Tags: , , ,
DSC_0174

Pantai Gandoriah – Pariaman, Sumatera Barat

Empat hari terakhir serasa sangat berpihak buat para kelas pekerja. Tiga hari liburan dan satu Hari Kecepit Nasional, yang bulan ini jatuh pada tanggal 15 Mei 2015, tampaknya membuat kita semua bernyanyi, “Hepi yey..yey..yey..” Termasuk saya dan istri yang tentunya nggak akan menghabiskan waktu libur dengan di rumah saja. Sejak seminggu sebelumnya sudah sibuk melempar koin untuk menentukan, tempat tujuan mana yang harus dituju berikutnya di hari libur nanti. Akhirnya diputuskan, Kamis Pon, tanggal 14 Mei kami menuju ke Pesut, Pesisir Utara. Kenapa dinamai Pesut? Karena Painan dinamai Pessel, alias Pesisir Selatan. Jadi nggak adil rasanya kalau Pariaman nggak diberi singkatan yang sama. Oke? Nggak penting..lanjut.. Jam menunjukkan sekitar pukul 8 pagi saat kami start dari rumah. Percaya, nggak percaya, setelah rencana yang begitu matang, kami pun akhirnya bangun kesiangan. Tapi bukan tanpa alasan juga. Hingga pukul 6 pagi, Kota Padang masih diguyur hujan. Jadinya galau, mau berangkat atau nggak.. Namun karena awan kelabu berubah memutih, dan setelah rapat yang luar biasa seru hingga menghabiskan beberapa box cemilan, diputuskan, hari ini harus ke Pariaman! Pariaman memang berada di utara Kota Padang dengan jarak tempuh sekitar 1 jam 30 menit berkendara motor, kalau nggak macet.. Kalau nggak macet dan nggak perlu isi bensin.. Kalau nggak macet dan nggak perlu isi bensin, terus nggak mampir-mampir ke warung.. Kalau nggak macet dan nggak perlu isi bensin, terus nggak mampir-mampir ke warung, dan nggak mengurangi gas motor karena kuatir nabrak sapi yang lagi nongkrong di pinggir jalan.. *apalah!* Setelah sempat kehilangan arah karena petunjuk jalan yang tiba-tiba menghilang ditelan waktu (serius, pemerintah Kota Pariaman harus bikin petunjuk arah yang asik biar para wisatawan yang masih asing bisa sampai tanpa kesasar), akhirnya kita sampai ke sebuah kota kecil yang aman, tapi panasnya bisa bikin kepala orang Jawa cekot-cekot. Beruntung, insting turis kami berhasil menuntun ke jalan yang benar, DSC_0265 Sampailah ke Pantai Gandoriah. Sebuah pantai yang bisa disebut sebagai Pantai Kuliner karena nggak seperti pantai-pantai lainnya yang pernah saya temui, dimana toko suvenir mendominasi, sepanjang Pantai Gandoriah ini malah berdiri warung-warung. Nggak apa-apa lah. Kan jamannya anti-mainstream. Nggak perlu ikut-ikutan pantai lain.

DSC_0169

Pulau Angso Duo

Sejak parkir kendaraan di, tentu saja, pinggir warung makan, banyak bapak-bapak dan ibu-ibu yang, tentu saja, pemilik warung makan, menawarkan tiket untuk menyeberang ke Pulau Angso Duo. Sebuah pulau kecil dengan hamparan pasir putih yang terlihat jelas.. dengan menggunakan zoom kamera. Soalnya kalau pakai mata biasa susah melihatnya. Karena nggak mau rugi dengan perjalanan yang jauh, okelah kita menyeberang. Satu tiket harganya Rp 35.000. Jangan sampai membeli tiket palsu. Contoh yang asli bisa kamu lihat pada foto istri di bawah ini: DSC_0176Nah, sudah lihat tiket aslinya? Jangan beli yang palsu. Beli aslinya di loket-loket terdekat di Pantai Gandoriah, ya. Sebenarnya, masih ada tujuan wisata pulau kecil lainnya di Pariaman, yaitu Pantai Kasiak. Untuk menyeberang harganya dua kali lipat lebih mahal daripada ke Pantai Angso Duo karena jarak tempuh yang agak jauh. Sang Ibu penjual tiket kapal penyeberangan kemudian memberitahu kalau kami harus menunggu dulu hingga kapal yang akan mengangkut kami kembali dari Pantai Angso Duo. Ah, kirain langsung menyeberang. Dari sinilah kesialan dimulai. Angin laut berubah kencang dalam sekejap dan menerbangkan sate-sate udang yang dijual seorang adiak kecil. -Onde mande.. ibo hati denai mencaliak adiak tu.- Sebenarnya lebih kasihan sate-sate udang yang kena debu-debu pasir pantai sih. Tapi karena nggak beli, ya kasihan adik penjual sate udangnya saja lah. Dan benar saja, angin tampaknya mengumpulkan awan dan mengubahnya jadi mendung dan bikin laut berombak nggak karuan. Melihat kondisi cuaca, daripada nanti naik kapal sambil was-was, akhirnya diurungkanlah niat untuk menyeberang. Untungnya, sang Ibu penjual tiket juga baik hati, mengembalikan uang pembelian tiket dengan penuh, tanpa potongan apapun. Baik banget ya.. Dalam hati ingin rasanya menjerit, “Wahai para maskapai penerbangan Indonesia, jadikan Ibu penjual tiket itu sebagai inspirasi buat kalian!” Akhirnya, waktu pun dihabiskan dengan menikmati Nasi Sek. Nama nasinya jangan diubah-ubah ya. Apalagi ke dalam Bahasa Inggris. Nanti jadinya Nasi Six, alias Nasi Enam.. Nasi Sek ini asli dari Pariaman. Boleh dibilang, Sego Kucing atau Sego Bantingan, hanya saja lauknya nggak main-main. Lauk ayamnya saja gede.. Dan dihitung per lauk yang dimakan. Jadi, bijaksanalah dalam mengambil lauknya. DSC_0324 DSC_0327 Akhirnya, sebelum badai datang ke bibir Pantai Gandoriah, kami pun memutuskan untuk pulang. Pulau Angso Duo bisa menyusul nanti saja, saat cuaca lebih bersahabat dan, tentunya, nggak bangun kesiangan (lagi). Catatan: Tapi akhirnya kami kehujanan juga saat perjalanan pulang ke rumah.Yoweslah.. Anggap saja Sumatera Barat masih belum berminat dengan musim panas.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s